Mungkin saya memang orang yang selalu
beruntung dan keberuntungan itu sepertinya kembali berlanjut di awal tahun 2014
ini. Tanggal 17 Januari kemarin, saya yang “wong ndeso” alias orang desa kembali
mendapat undangan ke Jakarta untuk menghadiri acara yang sangat istimewa. Hari
Jum’at itu saya diundang untuk menghadiri launching buku “Selalu Ada Pilihan”
karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Assembly Hall Jakarta
Convention Centre (JCC).
Ya, ini adalah keberuntungan berulang
yang sangat saya syukuri. Enam bulan sebelumnya tepatnya tanggal 5 Juli 2013,
saya diundang untuk menghadiri Kopi Darat Istana untuk Rakyat (Kopdar Istura)
Perdana di Istana Bogor bersama Presiden SBY sekaligus menyaksikan launching akun
Facebook, Google+ dan YouTube beliau. Dua bulan sebelum itu, akun Twitter saya
@Dody_Kasman difollback Presiden SBY.
Seperti sudah saya jelaskan pada tulisan
terdahulu, keberuntungan ini berawal dari tulisan saya di Kompasiana tentang
kunjungan Presiden SBY ke Gunung Bromo awal Mei 2013. Dari situlah semua
keajaiban dan keberuntungan ini berlanjut. Tentu juga berkat beberapa pihak
yang memungkinkan tulisan saya di Kompasiana terbaca dan mendapat apresiasi
dari pihak Istana.
Seperti saat diundang Kopdar Istura Perdana,
saya sama sekali tak punya bayangan bisa diundang untuk menghadiri launching
buku istimewa itu. Sebenarnya rencana launching buku ini sudah disampaikan oleh
Presiden SBY lewat akun Twitternya @SBYudhoyono yang menjelaskan bahwa
peluncuran buku rencananya akan dilaksanakan awal Desember 2013. Sayapun
langsung merespon tweet tersebut dan berharap bisa mendapatkan buku itu sekaligus
mungkin membuat resensi buku, dari sudut pandang “wong ndeso” tentunya.
Alhamdulillah, ternyata saya tak hanya
mendapatkan buku tersebut tetapi juga diundang untuk menghadiri launching yang
dilaksanakan di JCC Jum’at (17/1) malam. Undangan tak terduga ini awalnya
disampaikan oleh salah seorang Staf Kepresidenan seminggu sebelum hari H. Tanpa
pikir panjang, saya langsung menyanggupi untuk hadir sambil menunggu informasi
selanjutnya. Dua hari kemudian salah seorang panitia kembali memastikan
kesediaan saya untuk hadir sambil memberikan beberapa informasi termasuk
undangan yang harus saya ambil di Wisma Negara.
Setelah semuanya pasti, sayapun minta
ijin pada pimpinan untuk menghadiri acara tersebut. Meskipun sebenarnya ini
adalah undangan pribadi sebagai pegiat media sosial yang aktif menulis di
Kompasiana, tapi sebagai etika aparatur di daerah saya harus minta ijin pada
pimpinan langsung yakni Pak Camat. Alhamdulillah beliau mengijinkan apalagi
acara launching dilaksanakan di luar jam kerja. Sebenarnya saya juga sudah menyampaikan
ijin kepada Bupati melalui sekretaris pribadinya, namun hingga kepulangan dari
Jakarta belum ada jawaban kapan saya bisa menghadap.
Jum’at siang saya sudah tiba di Jakarta
dan bermaksud langsung menuju Wisma Negara untuk mengambil undangan. Tapi
kembali saya diberi kemudahan, Staf Kepresidenan melalui SMS menyampaikan bahwa
undangan akan diantar ke tempat saya menginap. Dengan demikian saya tak perlu
ke Wisma Negara yang tentu saja harus melewati proses pemeriksaan sebelum bisa
masuk ke dalam.
Acara yang dilaksanakan malam hari itu membuat
saya masih punya waktu untuk beristirahat dan menikmati suasana sore hari di
Jakarta yang ketika itu mendung dan sudah banjir di beberapa tempat. Kebetulan
ada teman sekolah sedaerah yang bekerja di Jakarta mengajak saya sore itu
berkeliling seputar Senayan dengan sepeda motor Vespa tuanya. Sayapun tak bisa
menolak ketika dia memaksa untuk mengantar saya ke JCC berVespa, padahal saya
sudah berencana untuk naik taxi kesana. “Kalo naik taxi bisa lama karena macet,
biar saya antar sekalian saya pulang ke rumah juga”, ucap teman saya ketika
itu.
Setelah Maghrib kami meluncur ke JCC
melewati lalu lintas Jakarta di sore hari yang sudah pasti padat dan macet
disana-sini. Alhamdulillah, tak sampai 15 menit kami sudah sampai di akses
masuk pintu 6 Senayan. Namun sayang, karena memang sudah menjadi prosedur
pengamaman, tak semua kendaraan bisa masuk apalagi motor Vespa tua yang
mengantar saya. Akhirnya sayapun harus sedikit berjalan kaki dari pintu 6
menuju Assembly Hall JCC. Berkat undangan yang saya bawa, segala sesuatunya
menjadi mudah. Hanya dengan menunjukkan undangan, semua petugas dengan ramah
menunjukkan arah menuju lokasi acara yang sama sekali tak pernah saya datangi
sebelumnya.
Ada perasaan campur aduk begitu akan
memasuki Assembly Hall JCC. Saya seperti “wong ndeso” yang hilang di tengah
keramaian. Selama ini saya tahu JCC yang sering dipakai untuk pertemuan penting
dan konser artis ibukota hingga mancanegara dari media khususnya TV. Belum lagi
undangan yang kebanyakan para pejabat negara dan tokoh-tokoh penting nasional.
Saya yang datang seorang diri dari daerah hanya bisa “tolah-toleh” kanan kiri
berharap bisa bertemu orang yang saya kenal.
Alhamdulillah, begitu masuk ke tempat
ramah tamah sebelum acara dimulai saya bertemu “Mas” dari Staf Kepresidenan
yang langsung menyambut dan menyapa saya dengan ramah. Kehangatan dan keramahan
sambutan itu membuat saya tak lagi merasa sepi. Setelah berbincang sejenak, Mas
Staf Kepresidenan tersebut mempersilahkan saya menikmati hidangan yang
tersedia. Saat itu pula akhirnya saya bertemu beberapa rekan dari Kopdar Istura
Perdana yang juga mendapat undangan.
Begitu masuk Assembly Hall dan mengikuti
acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu, tak henti-hentinya saya berucap syukur.
Serasa mimpi, akhirnya saya yang “wong ndeso” bisa masuk di dalam Assembly Hall
dan menyaksikan launching buku Presiden SBY bersama ratusan bahkan ribuan
undangan yang didominasi orang-orang penting. Cukup lama saya tak menyadari
jika di belakang saya ada Mas Leak Kustiya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang
sudah pasti menjadi undangan khusus pada acara tersebut.
Jika selama ini saya hanya bisa
membayangkan suasana pertunjukan musik di JCC, maka malam itu mimpi saya itu
menjadi kenyataan. Akhirnya saya bisa menikmati suara merdu Lala Karmela
diiringi gitaris ternama Tohpati. Tak hanya itu, saya juga bisa menikmati suara
khas penyanyi legendaris Ebiet G. Adhe. Dan tentu saja yang paling istimewa,
saya kembali bisa mendengar dan menyaksikan secara langsung Presiden SBY
menyampaikan penjelasan dan pencerahan terkait buku yang diluncurkannya malam
itu. Momen berharga dan langka bagi “wong ndeso” dari daerah yang sangat jauh
dari Ibukota seperti saya.
Banyak yang mengkritik Presiden SBY tak
memiliki kepedulian karena meluncurkan buku saat bencana sedang terjadi di
beberapa tempat di tanah air. Namun sebenarnya tak seperti itu. Presiden SBY
sendiri menjelaskan sebenarnya launching akan dilakukan awal Desember, tapi
karena padatnya agenda jelang akhir tahun maka rencana tersebut ditunda. Dipilih
tanggal 17 Januari sebab hanya pada tanggal itulah Assembly Hall JCC bisa
dipakai, karena banyak kegiatan lain yang dilaksanakan di tempat yang sama
selain tanggal tersebut.
Jika diperhatikan, jelang peuncuran
bukunya Presiden SBY justru menunjukkan kepeduliannya pada bencana dan musibah
yang sedang terjadi. Lewat HP, saya sempat mengikuti beberapa tweet di TL
beliau. Beberapa jam sebelum acara, Presiden SBY menerima laporan kondisi
bencana di berbagai daerah dan memberikan arahan kepada pimpinan daerah
bersangkutan serta Kepala BNPB untuk memastikan bantuan kepada masyarakat
segera disalurkan.
“Saya baru sj telepon Gubernur DKI
Jakarta, Sumut & Sulut utk tanyakan perkembangan situasi terkini di wilayah
masing2”, demikian tweet Presiden SBY tanggal 17 Januari 2014 pukul 18.46 WIB.
“Dr laporan para Gubernur tsb, scr umum bencana di wilayah masing2 sdh
ditangani dg baik & bantuan jg sdh tersalurkan”, demikian bunyi tweet
selanjutnya pukul 18.52 WIB. Beberapa saat kemudian berlanjut dengan tweet
bahwa khusus untuk Sinabung Presiden SBY akan berkunjungi minggu depannya (23
s/d 25 Januari). Untuk Manado beliau sudah menugaskan Wakil Presiden untuk
meninjau langsung. Dengan demikian tak perlu dipertanyakan lagi kepedulian
Presiden SBY terhadap bencana yang sedang terjadi meskipun launching buku
dilaksanakan saat itu.
Tak terasa dua jam acara istimewa itu
berlangsung meriah dan sukses. Kembali saya mengucap syukur bisa menjadi saksi
launching buku orang nomor satu di negeri ini. Semakin bersyukur karena semua
undangan malam itu mendapat hadiah berupa goody
bag berisi buku “Selalu Ada Pilihan” setebal 800 halaman lebih, buku saku
berisi kutipan-kutipan dari buku tersebut dan satu buah flash disk berbentuk
kartu identitas berisi foto-foto dan video teaser serta trailer launching buku.
Dan yang sangat istimewa bagi saya
pribadi, ternyata buku yang saya dapat termasuk salah satu dari 100 buku yang
ditandatangani sendiri oleh Presiden SBY. Sebelumnya pembawa acara di akhir
acara menyampaikan bahwa ada hadiah istimewa berupa 100 buku yang ditandatangani
Presiden SBY hanya untuk 100 undangan, dan saya termasuk salah satu orang yang
beruntung itu. Ya, “wong ndeso” beruntung lagi.
Sesampai di penginapan, saya mencoba membuka
halaman-demi halaman buku yang sangat tebal itu. Sepintas isinya menarik dengan
bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Meskipun tebal, saya yakin pembaca bisa
menikmati dan memahami apa yang ingin disampaikan penulis di setiap halamannya.
Tak terasa, mungkin karena lelah dan mengantuk sayapun tertidur ditemani buku
bercover putih itu.
Sabtu pagi keesokan harinya sayapun
langsung pulang dengan berkereta api, tentu saja harus turun di Surabaya
terlebih dulu dan melanjutkan perjalanan 3 jam dengan bus antar kota ke
Probolinggo. Sengaja saya memilih kereta api, disamping untuk mencari suasana
lain bagi saya cuaca akhir-akhir ini bisa membuat sport jantung jika harus naik
pesawat. Di kereta, kembali saya sampaikan terima kasih lewat Twitter kepada
Presiden SBY atas undangan launching bukunya yang inspiratif itu. Undangan yang
bagi saya sangat istimewa.
Ya, sangat istimewa bagi saya “wong
ndeso” yang kebetulan aktif menulis di Kompasiana. Kemajuan teknologi informasi
dengan banyaknya alternatif media dan jejaring sosial memungkinkan kita untuk
menembus batas ruang dan waktu. Saya yang sehari-hari tinggal di desa dan berprofesi
sebagai pelayan masyarakat di salah satu Kecamatan di daerah pegunungan
Kabupaten Probolinggo bisa dua kali diundang ke acara khusus yang juga dihadiri
Presiden SBY.
Semua ini bisa terjadi salah satunya
berkat wadah Kompasiana yang memungkinkan saya untuk berekspresi menyampaikan
aspirasi lewat tulisan. Itulah mengapa mas panitia dari Event Organizer (EO)
yang mengkonfirmasi kehadiran menyebut saya Dody Kasman Blogger Kompasiana. Setidaknya
ini bisa menjadi motivasi bagi saya pribadi untuk terus berkarya lewat media
warga ini.
Dan untuk yang kesekian kalinya saya
sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden SBY dan semua
pihak yang telah memberikan kesempatan berharga yang tak mungkin bisa
terlupakan seumur hidup ini. Rekan yang tinggal di Jakarta saja mengaku sangat
bersyukur karena orang kampung (di Jakarta) sepertinya mendapat kehormatan
menghadiri acara launching tersebut, apalagi saya yang memang asli orang desa.
Sungguh merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri yang wajib saya
syukuri.
Diundangnya saya dan rekan-rekan yang
orang biasa menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin yang tak
membeda-bedakan latar belakang profesi, jabatan maupun status sosial. Bagi saya
ini adalah wujud apresiasi yang tentunya akan makin memotivasi untuk terus berkreasi
dan berbagi hal-hal positif demi kepentingan bangsa dan negara. Terima kasih
juga untuk semua pihak yang memungkinkan saya kembali bisa merasakan nikmat
Allah yang luar biasa ini.
Probolinggo, 23 Januari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar