Mungkin saya termasuk orang desa alias
“Wong Ndeso” yang selalu beruntung. Sebagai “wong ndeso” yang juga pemerhati
dunia maya, saya termasuk orang yang beberapa kali beruntung. Pertama, akun
twitter saya @Dody_Kasman di follback Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
tanggal 6 Mei yang lalu, setelah sebelumnya beliau merespon artikel yang saya
tulis di Kompasiana. Berikutnya sebulan kemudian, akun saya juga difollback
akun resmi Istana Kepresidenan yang terkenal dengan username @IstanaRakyat.
Dan keberuntungan saya ternyata masih
berlanjut. Dan keberuntungan kali ini merupakan hal yang sama sekali tidak
pernah saya bayangkan, bahkan mimpipun tak pernah karena sangat mustahil bagi
saya yang hanya warga negara biasa yang tinggal di daerah jauh dari ibukota.
Namun kenyataan berkata lain, Jum’at 5
Juli 2013 yang lalu saya mendapat undangan untuk datang ke Istana Bogor. Saya
diundang sebagai pegiat sosial media untuk menghadiri Kopi Darat Istana untuk
Rakyat Perdana (Kopdar Istura Perdana). Kopdar ini diselenggarakan oleh Staf
Kepresidenan yang mengelola akun twitter @IstanaRakyat.
Banyak yang meragukan keaslian
undangan tersebut saat pertama kali saya mengabarkannya pada beberapa kerabat
dan teman dekat. Ada yang mengingatkan agar saya berhati-hati, khawatir itu
undangan “awu-awu” alias undangan tidak jelas ulah oknum tak bertanggung jawab.
Tak sedikit pula yang mencibir, menganggap itu undangan palsu sebab tak mungkin
orang biasa dan “ndeso” seperti saya bisa mendapat undangan istimewa semacam
itu.
Rasanya seperti tak mungkin, saya yang
hanya staf kecamatan di pedalaman Kabupaten Probolinggo mendapat undangan
khusus dari Istana Kepresidenan. Saya yang setiap hari bergaul dengan Kepala
Desa dan Perangkat Desa serta rekan-rekan pegawai kantor kecamatan, rasanya tak
mungkin bisa diundang pihak Istana dan bertemu dengan orang-orang penting level
nasional.
Namun semuanya saya tanggapi dengan
pikiran positif. Saya tetap antusias dan bersyukur mendapatkan undangan istimewa
tersebut. Makin optimis setelah beberapa kali panitia kopdar mengkonfirmasi
kehadiran dan menjelaskan beberapa hal terkait acara tersebut. Bahkan sangat
mendetail dan membuat saya akhirnya merasa nyaman dan aman serta yakin untuk
segera berangkat.
Karena dari luar Jabotabek, saya harus
sudah ada di Jakarta hari Kamis tanggal 4 Juni sebab rombongan dari Jakarta dan
sekitarnya berangkat dari kompleks Sekretariat Negera (Setneg) hari Jum’at
pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah Kamis malam saya sudah ada di Jakarta, menginap
di salah satu hotel persis di depan kompleks Setneg.
Jum’at pagi saya langsung menuju
halaman parkir masjid yang berada di dalam lingkungan Setneg tempat rombongan
berkumpul. Rasanya masih seperti mimpi ketika memasuki gerbang Setneg, baru
tersadar dan yakin ini bukan mimpi saat petugas pengamanan di pintu masuk melakukan
pemeriksaan sesuai prosedur.
Untuk meyakinkan orang-orang yang
sempat meragukan keberangkatan saya ke Jakarta, seketika itu pula saya langsung
mengambil gambar gedung Setneg dengan kamera HP dan memasangnya sebagai DP BBM.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian puluhan BBM masuk mengkonfirmasi foto
yang bagi sebagian dari mereka tak mungkin itu. “Alhamdulillah” begitu status
singkat BBM saya merespon pertanyaan mereka. Padahal perjalanan seru baru
dimulai.
Jika awalnya saya merasa sendiri dan
asing saat melangkah masuk menuju lokasi pemberangkatan, namun perasaan itu
sirna dan berubah menjadi rasa bahagia dan nyaman setelah bertemu dengan panita
kopdar yang notabene juga Staf Kepresidenan. Makin merasa tak sendiri saat
berkenalan dan berbincang dengan peserta yang lain.
Ternyata hari itu ada dua event yang
dilaksanakan bersamaan. Pertama, fotografi instagram bersama Ibu Ani Yudhoyono
yang memang diumumkan sebelumnya melalui akun @IstanaRakyat. Kegiatan ini
diiukuti 25 orang instagramers terpilih. Sedangkan kegiatan kedua adalah
diskusi media sosial yang diikuti 20 orang pegiat dan founder beberapa komunitas
media sosial.
Seluruh peserta baik dari Jakarta dan
sekitarnya maupun Bogor dan sekitarnya bertemu di pintu masuk Istana Bogor.
Meskipun harus melalui prosedur pemeriksaan keamanan, namun panitia yang selalu
mendampingi selalu memastikan kami merasa nyaman. Di Istana Bogor kami
dipersilahkan beristirahat di Paviliun I yang biasanya digunakan untuk tempat beristirahat
pejabat selevel Menteri.
Lagi-lagi saya dan teman-teman kembali
beruntung sebab hari itu bertepatan dengan kunjungan resmi Perdana Menteri Australia
yang baru, Kevin Rudd ke Istana Bogor. Bahkan kami sempat melambaikan tangan
pada Ibu Ani Yudhoyono dan Istri PM Australia Therese Rein saat berkeliling
meninjau kompleks Istana Bogor.
Usai sholat Jum’at rangkaian kegiatan
dimulai. Diawali dengan tour keliling istana. Kami diajak menyaksikan berbagi
koleksi lukisan dan benda-benda bernilai sejarah yang ada di museum di dalam
kompleks istana. Kami juga dikenalkan dengan beberapa koleksi flora dan fauna
yang melengkapi keindahan Istana Kepresidenan tersebut.
Setelah tour, peserta dibagi menjadi
dua kelompok. 25 orang langsung menuju lokasi hunting foto di halaman Istana Bogor
bersama Ibu Ani Yudhoyono. Sementara 20 orang lainnya langsung menuju Ruang
Garuda, yang istimewanya, ketika itu baru saja dipakai sebagai ruangan untuk
pertemuan bilateral Presiden SBY dengan PM Kevin Rudd.
Saya bersama 19 orang peserta diskusi
media sosial benar-benar beruntung sebab yang bertindak sebagai narasumber
adalah mas Agus Yudhoyono, CEO Kaskus dotcom Ken Dean Lawadinata dan artis ayu
Maudy Ayunda. Tema diskusi juga sangat menarik yaitu “Indonesia Bisa : Penggunaan Media Sosial sebagai Sarana Menebarkan Hal
Positif Bagi Bangsa”.
Saat diskusi
telah berjalan hampir satu jam, protokoler istana memberi tanda kepada staf kepresidenan
yang bertindak sebagai moderator diskusi bahwa Presiden SBY berkenan untuk
bergabung bersama kami. Sesaat kemudian Presiden SBY memasuki ruangan sambil
menyapa kami dengan ramah. Hangat sekali sapaan beliau, tak terlalu protokoler.
Saya yang awalnya tegang akhirnya bisa relaks melihat beliau yang menyapa
dengan senyum ramahnya.
Begitu pula
saat Presiden SBY memberikan arahan kepada seluruh peserta diskusi. Beliau
mampu membawa suasana diskusi menjadi cair, tidak terlalu tegang dan apa yang
disampaikan dapat kami tangkap dengan baik. Pada intinya beliau menekankan
pentingnya peran media sosial di era globalisasi seperti saat ini, terutama
untuk menyampaikan hal-hal yang positif demi kepentingan bangsa dan negara.
Presiden
juga berbagi pengalaman sebagai pengguna media sosial, khususnya twitter dan
ketertarikannya untuk merambah komunitas dunia maya yang lain seperti Youtube
dan Google+. Menurut beliau, dengan memanfaatkan media sosial, ide dan
pemikirannya dapat langsung disampaikan dengan cepat. Ini juga sebagai
penyeimbang pemberitaan media yang cenderung memojokkan pemerintah, padahal
masih banyak kebijakan-kebijakan yang belum tersampaikan dengan baik ke
khalayak.
Satu hal
yang kembali membuat saya terkesan, saat akan meninggalkan ruangan Presiden SBY
masih menyempatkan diri untuk menghampiri dan menyalami kami satu persatu. “Terima
kasih untuk kedatangannya,” begitu ucap beliau saat kami berjabat tangan.
Padahal semestinya saya yang mengucapkan terima kasih atas kesempatan langka
dan luar biasa itu.
Pertemuan
kami dengan Presiden SBY ternyata masih berlanjut hingga malam hari. Seluruh
peserta kopdar diundang untuk menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden
SBY dan Ibu Ani Yudhoyono. Hadir juga bergabung dengan kami malam itu, artis
peran Titi Rajo Bintang dan personel boyband Sm*sh Bisma Karisma. Bagi saya,
lagi-lagi ini pengalaman luar biasa bagi “wong ndeso” yang biasa makan di
warung kecil pinggir jalan, akhirnya bisa menikmati hidangan istimewa di Istana
Kepresidenan satu ruangan dengan Presiden RI dan Ibu Negara.
Ternyata
masih ada satu acara lagi yang harus kami ikuti setelah makan malam. Malam itu
kami menjadi saksi launching fanpage Facebook, Yotube dan Google+ Presiden SBY.
Sebelumnya kami juga menyaksikan proses video conference via Google Hangout
oleh Presiden SBY dengan Satgas penanganan bencana gempa bumi Aceh dan
penanggulangan asap di Kalimantan dan Riau.
Sekitar
pukul 21.00 seluruh rangkaian acara usai. Semua undangan yang hadir malam itu
berfoto bersama Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono di depan Istana Bogor.
Kembali Presiden SBY menyampaikan terima kasih atas kedatangan kami sembari
mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat. Kesan yang bisa saya
tangkap, beliau adalah sosok pemimpin yang santun dan mengayomi.
Malam itu juga semua peserta kopdar
berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara saya yang jauh dari
daerah harus menginap semalam lagi di Jakarta dan pulang keesokan paginya.
Sambil beristirahat, saya upload foto-foto yang merekam peristiwa selama berada
di Istana Bogor. Tak sedikit yang langsung merespon memberikan ucapan selamat,
termasuk mereka yang awalnya tak percaya dan menganggap keberangkatan saya ke
Jakarata hanya gurauan belaka.
Entah apa yang menjadi sebab dan
alasan saya diundang ke istana. Namun yang jelas semua berawal ketika saya
menulis tentang kunjungan Presiden SBY ke Probolinggo yang saya posting di
kompasiana. Di dalam artikel itu saya tulis tentang celetukan putri saya, Nia,
“Pak SBY nyuwun duwite, buat beli es krim”. Mungkin kalimat ajaib itu yang
menjadi ihwal semua keajaiban ini.
Sama sekali tak menyangka juga dengan
apresiasi luar biasa dari Istana Kepresidenan lewat akun @IstanaRakyat yang
mengundang saya secara pribadi. Padahal saya baru menulis beberapa artikel saja
tentang Presiden SBY, jika dibandingkan dengan tulisan saya tentang Fatin
Shidqia Lubis yang jumlahnya sudah puluhan.
Apakah ini juga karena kicuan saya di
twitter yang sering menyapa sambil memberi kritik dan saran kepada Presiden SBY
lewat akun @SBYudhoyono dan akun @IstanaRakyat? Tapi apapun dan siapapun yang
memungkinkan semua ini terjadi, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah
SWT atas semua peristiwa luar biasa ini, terima kasih juga kepada semua pihak
yang ikut andil memungkinkan terjadinya keajaiban ini.
Dari pengalaman langka seperti ini
saya juga banyak belajar mengenai bagaimana memperlakukan orang lain, siapapun
itu dan dari kalangan manapun. Dari para staf kepresidenan banyak pelajaran
berharga yang bisa saya petik. Keramahan mereka, kesigapan mereka dan kebaikan
mereka membuat saya merasa nyaman dan tidak merasa “asing” ketika berkunjung ke
tempat penting seperti Istana Bogor.
Selain itu, berkat undangan ini saya bisa
bertemu dengan banyak sekali tokoh-tokoh media sosial yang menginspirasi.
Seperti misalnya mas Saptuari Sugiharto dari Jogjakarta, penggagas sedekah
rombongan, yang mampu memanfaatkan sosial media untuk menolong orang yang
membutuhkan. Yah, meski saat ini saya belum mampu seperti itu, namun ke
depannya, siapa tahu?
Yang pasti, berkat pengalaman ini saya
bisa belajar bahwa aktif di sosial media seperti Facebook, Twitter maupun
Kompasiana bukanlah hal yang sia-sia dan percuma. Saya bisa berkenalan dengan
banyak orang-orang dan menambah pengetahuan tentang pentingnya media sosial
untuk menebarkan hal-hal positif untuk kepentingan bersama.
Yang terpenting lagi, pengalaman
berharga tersebut menjadi motivasi dan makin meyakinkan saya bahwa media sosial seperti Twitter dan Facebook
ke depannya akan menjadi pilihan untuk menyebarkan hal-hal baik yang mampu
membangun bangsa. Yang luar biasa lagi dan hingga kini masih serasa
mimpi, media sosial juga yang akhirnya mampu mempertemukan saya secara langsung
dengan orang nomor satu negeri ini.
Semoga kisah yang masih serasa mimpi
bagi saya ini, bisa menjadi inspirasi dan memotivasi rekan-rekan yang lain
untuk terus berkarya. Tak ada yang tak mungkin jika mau berusaha. Lakukan
segala sesuatunya dengan niat ibadah dan pikiran positif, sehingga positif dan
manfaat pula hasil yang kita peroleh.
16 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar