Fatin dan Saya bertemu Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY)? Benarkah? Kapan? Dimana? Mungkin pertanyaan itu yang muncul
ketika membaca judul artikel ini. Ya, kami berdua memang sudah bertemu dengan
beliau. Meskipun sebenarnya saya justru belum pernah bertemu langsung dengan
Fatin. Lah, kok bisa? Jelas saja, sebab kami ketemu Presiden SBY di waktu dan
tempat yang berbeda.
Fatin bertemu Presiden SBY tanggal 27 Pebruari yang
lalu di acara Silaturrahim Nasional Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi. Saat
itu Fatin juga tampil menyanyi di depan Presiden SBY dan Ibu Ani. Sementara
saya bertemu Presiden SBY di acara diskusi media sosial pada Kopdar Istura
Perdana tanggal 5 Juli 2013 silam di Istana Bogor. Saat itu saya sempat
berjabat tangan dengan beliau.
Mungkin apa yang Fatin rasakan sama dengan apa yang
saya rasakan ketika itu. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari kicauan
Fatin di akun twitternya beberapa saat usai ia tampil dan bertemu Presiden SBY.
“Nyanyi di depan Pak SBY itu...super duper deg-deg'an. Huaaah”, begitu tweet di
akun pribadinya @fatinSL.
Tweet tersebut setidaknya menggambarkan betapa
nervousnya Fatin sebab ini kali pertama ia tampil di depan Presiden, meskipun
sebenarnya jam terbang manggungnya sudah lumayan tinggi. Walau mengaku sangat
deg-dengan namun Fatin akhirnya mampu tampil bagus. Meski mengaku “super duper”
deg-degan, perasaan bahagia dan bangga juga nampak di wajah Fatin ketika ia
bersalaman dengan Presiden SBY.
Apa yang dirasakan Fatin juga pernah saya rasakan saat
pertama kali bertemu dan bersalaman dengan beliau tahun lalu. Logikanya, Fatin
yang sudah demikian populer dengan jutaan penggemar fanatiknya (termasuk saya)
bisa deg-degan seperti itu, apalagi saya yang bukan artis dan bukan
siapa-siapa. Dan sekali lagi, ini adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi,
sebab tak semua orang bisa mengalaminya. Kesempatan yang sangat langka
sekaligus merupakan suatu kebanggan tersendiri bisa bertemu dan berjabat tangan
dengan orang nomor satu di negeri ini.
Dan adalah hal yang wajar juga jika rakyat di daerah
yang dikunjunginya menyambut dengan suka cita hingga rela menanti lama di jalan
yang akan dilalui rombongan Presiden, hanya untuk sekedar bisa melihat secara
langsung wajah pemimpinnya. Demikian juga yang saya alami ketika beliau
berkunjung ke Probolinggo tahun lalu. Hanya berdasar kabar di koran lokal dan
berita dari mulut kemulut, tanpa dikomando dan tanpa paksaan kami sekeluarga
dan begitu juga ratusan warga masyarakat rela menunggu lama di pinggir jalan
yang akan dilalui rombongan Presiden.
Saya yakin begitu juga yang terjadi di daerah lain,
seperti halnya kebahagiaan yang diungkapkan adik sepupu dan keponakan saya
ketika Presiden SBY berkunjung ke kampung halaman saya di Palopo (Sulsel).
Perasaan bahagia, bangga dan beryukur karena seorang pemimpin di level teratas
mau berkunjung dan menyapa rakyat di daerah. Bahagia dan bersyukur karena tak
setiap hari Presiden datang ke daerah.
Di kota metropolitan seperti Surabaya, masyarakat juga
menyambut dengan antusias kehadiran Presiden SBY sebagaimana terjadi Selasa
(11/3) malam kemarin. Saat itu Presiden SBY dan Ibu Ani hadir di Galaxy Mall
Surabaya untuk makan malam. Antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk bertatap
muka langsung dengan Presiden SBY, bahkan hingga pukul 21.00 WIB.
Tak ada yang mengarahkan masyarakat untuk bergerombol
menyemut hanya untuk sekedar bisa melihat dan menyapa Presiden SBY. Tak ada
yang memerintah mereka untuk berebut bersalaman dengan beliau. Semua itu mereka
lakukan dengan spontan dan suka cita sebagaimana senyum yang nampak di wajah
mereka.
Demikian halnya ketika saya menulis
pengalaman-pengalaman pribadi tentang kunjungan Presiden hingga pengalaman tak
terlupakan saat saya bisa bertemu langsung dan bersalaman dengan beliau. Tak
ada yang meminta, menyuruh apalagi memaksa saya untuk menulis itu semua. Saya
menulis karena saya memang ingin menulisnya.
Saya ingin mengabadikan dalam tulisan sekaligus
berbagi pengalaman dengan siapapun yang mau membaca tulisan saya dan masih mau
berpikir positif tentang apa yang saya tulis. Apa yang saya sampaikan dalam
tulisan-tulisan tersebut merupakan apresiasi atas hal-hal positif yang saya
terima dan rasakan. Meskipun untuk tulisan terakhir (“Ketika Presiden SBY Lewat
Kampung Kami”) dalam salah satu komentar saya justru di cap sebagai penjilat. Bahkan
komentator tersebut mengaku menyesal telah membaca tulisan-tulisan saya
terdahulu.
Anehnya, mengapa di saat saya menceritakan kembali pengalaman
orang lain (dalam hal ini ungkapan kebahagiaan keponakan dan saudara sepupu)
justru saya disebut sebagai penjilat? Begitu mudahnya menyebut saya sedemikian
rupa seolah-olah mampu membaca pikiran dan kata hati saya. Tapi biarlah... saya
menulis karena saya memang ingin menulis, dan apa yang saya tulis merupakan
ungkapan pikiran dan perasaan saya, itu saja.
Apresiasi lewat artikel yang pernah saya tulis sebenarnya
tak hanya tentang Presiden SBY. Justru saat awal-awal terjun sebagai
Kompasianer, saya begitu rajinnya menulis tentang Fatin, mulai saat ia sedang
menjalani proses audisi dan gala show hingga terpilih menjadi jawara X Factor
Indonesia (XFI) 2013. Tak ada yang meminta, menyuruh bahkan memaksa saya untuk
menulis tentang Fatin.
Terus terang, tantangan yang saya rasakan ketika itu juga
cukup berat. Banyak yang mencibir dan mencemooh saya yang sudah bukan remaja,
mengapa justru begitu “lebay”nya mensupport Fatin sampai saya aktif kembali
menulis, setelah sempat vakum cukup lama dari dunia tulis menulis. Seperti
halnya rekan-rekan Kompasianer Fatinistic yang lain, saya melakukannya dengan
sukarela, suka cita dan tulus ikhlas hanya untuk mensupport Fatin, meskipun tak
ada jaminan tulisan saya tersebut akan dibaca sendiri oleh Fatin.
Dengan semua yang saya alami dan rasakan itu, saya
terus dan akan terus menulis apa yang ada dalam pikiran serta apa yang saya
rasakan. Topik tentang Fatin dan Presiden SBY yang mendominasi semata-mata
merupakan bentuk apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan sehingga mampu
menginspirasi saya untuk kemudian saya ungkapkan dalam bentuk tulisan.
Sekali lagi, tak ada yang meminta, menyuruh bahkan
memaksa saya untuk menulis. Saya menulis karena saya memang ingin menulis. “I
don’t write it if don’t mean it!”. Yang jelas, saya selalu berusaha untuk
berpikir positif dan menyebarkan semangat positif lewat tulisan.
Dan harus disadari pula, berbeda pendapat di era yang
sangat bebas seperti saat ini adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Mari
kita jadikan perbedaan pendapat itu untuk saling mengkoreksi dan memperbaiki
diri sehingga kita bisa saling melengkapi. Jangan jadikan perbedaan pendapat
untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan.
Di bagian akhir tulisan ini saya mohon maaf kepada siapa
saja yang bersedia membaca tulisan ini namun kemudian kecewa dengan judul yang
mungkin “ndak nyambung” dengan isi artikel sehingga pembahasannya melebar
kemana-mana. Sekali lagi ini adalah salah satu ungkapan pikiran dan perasaan
yang saya wujudkan dalam bentuk tulisan, karena saya memang ingin menulisnya.