Kamis, 13 Maret 2014

Ketika Fatin dan Saya Bertemu Presiden SBY



Fatin dan Saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Benarkah? Kapan? Dimana? Mungkin pertanyaan itu yang muncul ketika membaca judul artikel ini. Ya, kami berdua memang sudah bertemu dengan beliau. Meskipun sebenarnya saya justru belum pernah bertemu langsung dengan Fatin. Lah, kok bisa? Jelas saja, sebab kami ketemu Presiden SBY di waktu dan tempat yang berbeda.
Fatin bertemu Presiden SBY tanggal 27 Pebruari yang lalu di acara Silaturrahim Nasional Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi. Saat itu Fatin juga tampil menyanyi di depan Presiden SBY dan Ibu Ani. Sementara saya bertemu Presiden SBY di acara diskusi media sosial pada Kopdar Istura Perdana tanggal 5 Juli 2013 silam di Istana Bogor. Saat itu saya sempat berjabat tangan dengan beliau.
Mungkin apa yang Fatin rasakan sama dengan apa yang saya rasakan ketika itu. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari kicauan Fatin di akun twitternya beberapa saat usai ia tampil dan bertemu Presiden SBY. “Nyanyi di depan Pak SBY itu...super duper deg-deg'an. Huaaah”, begitu tweet di akun pribadinya @fatinSL.
Tweet tersebut setidaknya menggambarkan betapa nervousnya Fatin sebab ini kali pertama ia tampil di depan Presiden, meskipun sebenarnya jam terbang manggungnya sudah lumayan tinggi. Walau mengaku sangat deg-dengan namun Fatin akhirnya mampu tampil bagus. Meski mengaku “super duper” deg-degan, perasaan bahagia dan bangga juga nampak di wajah Fatin ketika ia bersalaman dengan Presiden SBY.
Apa yang dirasakan Fatin juga pernah saya rasakan saat pertama kali bertemu dan bersalaman dengan beliau tahun lalu. Logikanya, Fatin yang sudah demikian populer dengan jutaan penggemar fanatiknya (termasuk saya) bisa deg-degan seperti itu, apalagi saya yang bukan artis dan bukan siapa-siapa. Dan sekali lagi, ini adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi, sebab tak semua orang bisa mengalaminya. Kesempatan yang sangat langka sekaligus merupakan suatu kebanggan tersendiri bisa bertemu dan berjabat tangan dengan orang nomor satu di negeri ini.
Dan adalah hal yang wajar juga jika rakyat di daerah yang dikunjunginya menyambut dengan suka cita hingga rela menanti lama di jalan yang akan dilalui rombongan Presiden, hanya untuk sekedar bisa melihat secara langsung wajah pemimpinnya. Demikian juga yang saya alami ketika beliau berkunjung ke Probolinggo tahun lalu. Hanya berdasar kabar di koran lokal dan berita dari mulut kemulut, tanpa dikomando dan tanpa paksaan kami sekeluarga dan begitu juga ratusan warga masyarakat rela menunggu lama di pinggir jalan yang akan dilalui rombongan Presiden.
Saya yakin begitu juga yang terjadi di daerah lain, seperti halnya kebahagiaan yang diungkapkan adik sepupu dan keponakan saya ketika Presiden SBY berkunjung ke kampung halaman saya di Palopo (Sulsel). Perasaan bahagia, bangga dan beryukur karena seorang pemimpin di level teratas mau berkunjung dan menyapa rakyat di daerah. Bahagia dan bersyukur karena tak setiap hari Presiden datang ke daerah.
Di kota metropolitan seperti Surabaya, masyarakat juga menyambut dengan antusias kehadiran Presiden SBY sebagaimana terjadi Selasa (11/3) malam kemarin. Saat itu Presiden SBY dan Ibu Ani hadir di Galaxy Mall Surabaya untuk makan malam. Antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk bertatap muka langsung dengan Presiden SBY, bahkan hingga pukul 21.00 WIB.
Tak ada yang mengarahkan masyarakat untuk bergerombol menyemut hanya untuk sekedar bisa melihat dan menyapa Presiden SBY. Tak ada yang memerintah mereka untuk berebut bersalaman dengan beliau. Semua itu mereka lakukan dengan spontan dan suka cita sebagaimana senyum yang nampak di wajah mereka.
Demikian halnya ketika saya menulis pengalaman-pengalaman pribadi tentang kunjungan Presiden hingga pengalaman tak terlupakan saat saya bisa bertemu langsung dan bersalaman dengan beliau. Tak ada yang meminta, menyuruh apalagi memaksa saya untuk menulis itu semua. Saya menulis karena saya memang ingin menulisnya.
Saya ingin mengabadikan dalam tulisan sekaligus berbagi pengalaman dengan siapapun yang mau membaca tulisan saya dan masih mau berpikir positif tentang apa yang saya tulis. Apa yang saya sampaikan dalam tulisan-tulisan tersebut merupakan apresiasi atas hal-hal positif yang saya terima dan rasakan. Meskipun untuk tulisan terakhir (“Ketika Presiden SBY Lewat Kampung Kami”) dalam salah satu komentar saya justru di cap sebagai penjilat. Bahkan komentator tersebut mengaku menyesal telah membaca tulisan-tulisan saya terdahulu.
Anehnya, mengapa di saat saya menceritakan kembali pengalaman orang lain (dalam hal ini ungkapan kebahagiaan keponakan dan saudara sepupu) justru saya disebut sebagai penjilat? Begitu mudahnya menyebut saya sedemikian rupa seolah-olah mampu membaca pikiran dan kata hati saya. Tapi biarlah... saya menulis karena saya memang ingin menulis, dan apa yang saya tulis merupakan ungkapan pikiran dan perasaan saya, itu saja.
Apresiasi lewat artikel yang pernah saya tulis sebenarnya tak hanya tentang Presiden SBY. Justru saat awal-awal terjun sebagai Kompasianer, saya begitu rajinnya menulis tentang Fatin, mulai saat ia sedang menjalani proses audisi dan gala show hingga terpilih menjadi jawara X Factor Indonesia (XFI) 2013. Tak ada yang meminta, menyuruh bahkan memaksa saya untuk menulis tentang Fatin.
Terus terang, tantangan yang saya rasakan ketika itu juga cukup berat. Banyak yang mencibir dan mencemooh saya yang sudah bukan remaja, mengapa justru begitu “lebay”nya mensupport Fatin sampai saya aktif kembali menulis, setelah sempat vakum cukup lama dari dunia tulis menulis. Seperti halnya rekan-rekan Kompasianer Fatinistic yang lain, saya melakukannya dengan sukarela, suka cita dan tulus ikhlas hanya untuk mensupport Fatin, meskipun tak ada jaminan tulisan saya tersebut akan dibaca sendiri oleh Fatin.
Dengan semua yang saya alami dan rasakan itu, saya terus dan akan terus menulis apa yang ada dalam pikiran serta apa yang saya rasakan. Topik tentang Fatin dan Presiden SBY yang mendominasi semata-mata merupakan bentuk apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan sehingga mampu menginspirasi saya untuk kemudian saya ungkapkan dalam bentuk tulisan.
Sekali lagi, tak ada yang meminta, menyuruh bahkan memaksa saya untuk menulis. Saya menulis karena saya memang ingin menulis. “I don’t write it if don’t mean it!”. Yang jelas, saya selalu berusaha untuk berpikir positif dan menyebarkan semangat positif lewat tulisan.
Dan harus disadari pula, berbeda pendapat di era yang sangat bebas seperti saat ini adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Mari kita jadikan perbedaan pendapat itu untuk saling mengkoreksi dan memperbaiki diri sehingga kita bisa saling melengkapi. Jangan jadikan perbedaan pendapat untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan. 
Di bagian akhir tulisan ini saya mohon maaf kepada siapa saja yang bersedia membaca tulisan ini namun kemudian kecewa dengan judul yang mungkin “ndak nyambung” dengan isi artikel sehingga pembahasannya melebar kemana-mana. Sekali lagi ini adalah salah satu ungkapan pikiran dan perasaan yang saya wujudkan dalam bentuk tulisan, karena saya memang ingin menulisnya.

Minggu, 23 Februari 2014

Ketika Presiden SBY Berkunjung ke Kampung Kami



Setelah menyambangi pengungsi Gunung Kelud, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melanjutkan kunjungan kerjanya ke beberapa daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) 19 s/d 23 Pebruari 2014. Kunjungan Presiden SBY ke Sulsel kali ini cukup istimewa dan membuat saya ikut bangga sebab salah satu daerah yang dikunjungi adalah Palopo. Meskipun sekarang saya tinggal di Probolinggo, namun saya lahir di Palopo. Kedua orang tua saya orang Luwu dan keluarga besar kami tersebar di beberapa daerah di Sulsel terutama Palopo dan Luwu.
Informasi tentang rencana kunjungan tersebut pertama kali saya dapat dari akun twitter @WebsitePresiden. Kunjungan ke Palopo kali ini tentu membuat saya kembali bersyukur, setelah tahun lalu Presiden SBY dua kali lewat depan rumah saya di Probolinggo sekarang  beliau berkunjung ke tanah kelahiran saya di Palopo.
Keluarga di Palopo dan Belopa (Ibukota Kabupaten Luwu) bergantian memberikan kabar tentang rencana kunjungan tersebut beberapa hari sebelum Presiden SBY berkunjung kesana. Rupanya kedatangan Presiden merupakan suatu hal yang sangat istimewa bagi mereka. Tak hanya menyampaikan kabar gembira tentang rencana kunjungan tersebut, bahkan ada kakak sepupu yang bercerita panjang lebar lewat telepon tentang persiapan warga dan pemerintah daerah menyambut kedatangan Presiden.
Saya pun membalas beberapa SMS, BBM dan telepon itu dengan ungkapan syukur akhirnya Presiden SBY dan Ibu Ani berkujung ke daerah kami. Saya pun kembali bersyukur dengan kunjungan tersebut, saudara-saudara saya di Belopa dan Palopo akhirnya bisa ikut merasakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bisa menyambut dan melihat langsung orang nomor satu di negeri ini.
Dan benar, ternyata apa yang saya rasakan dulu waktu pertama kali melihat Presiden melintas depan rumah di Probolinggo juga dirasakan keluarga di Palopo dan Belopa. Jum’at (21/2) siang Om saya yang tinggal Palopo menginformasikan via BBM bahwa Presiden SBY sholat Jum’at di Masjid Agung Palopo. Ia mengaku senang dan bersyukur bisa sholat Jum’at bersama Presiden. Usai sholat Jum’at Presiden SBY dan Ibu Ani berkunjung ke Istana Luwu untuk menerima gelar adat dari Kerajaan Luwu.
Namun yang membuat saya tersenyum geli sekaligus bahagia adalah ungkapan kegembiraan adik sepupu dan keponakan yang mereka sampaikan via BBM kepada saya setelah mereka melihat langsung Presiden SBY dan Ibu Ani. “Huu senangnya bisa lihat orang nomor 1 di Indonesia”, begitu isi BBM Atika, adik sepupu saya yang melihat Presiden SBY dan Ibu Ani saat memasuki wilayah Belopa.
Walaupun harus menunggu mulai jam 2 siang sampai menjelang Maghrib, ia mengaku senang meskipun juga capek harus berdiri cukup lama. “Meskipun capek tapi seneng kan bisa liat Presiden?” tanya saya pada Atika. “Iyaa dongg... smoga suatu hari saya bisa jadi seperti Pak SBY, Aamiiiinnn...”, jawabnya yang kemudian saya amini juga.
Kegembiraan juga diungkapkan keponakan saya, Muthmainna pelajar kelas 3 SMAN 1 Belopa yang juga menyambut kedatangan Presiden SBY dan IBU Ani ketika akan beristirahat sejenak di rumah jabatan Bupati Luwu di Belopa. “Om, Inna sudah liat Pak SBY dan Ibu Ani. Ibu Negara cantik sekali ya”, begitu isi BBMnya yang langsung dikirimnya beberapa saat setelah ia melihat langsung Presiden SBY dan Ibu Ani. “Snang skali Om pertama kalinya liat kepala negara”, lanjutnya mengungkapkan rasa senangnya.
Baik Atika maupun Inna serta warga Belopa dan Palopo lainnya sama-sama harus menunggu cukup lama untuk menyambut dan melihat langsung Presiden Sby dan Ibu Ani. Namun mereka dengan setia tetap menunggu rombongan Presiden melintas. Kunjungan Presiden SBY dan Ibu Ani merupakan suatu hal yang istimewa karena tak setiap hari terjadi. Oleh karena itu kesempatan berharga dan langka inipun tak mereka sia-siakan.
Lambaian tangan dan senyum hangat Presiden SBY dan Ibu Ani, sebagaimana pernah saya alami tahun lalu, pastinya memberikan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi warga yang menyambut di sepanjang jalan. Rasa lelah karena harus menunggu cukup lama, seketika terobati dengan senyum hangat Presiden SBY dan Ibu Ani. Dan memang sudah menjadi kebiasaan di setiap kunjungan, rombongan Presiden pasti melambat setiap kali melewati jalan yang ramai warga menyambut sehingga Presiden Sby dan Ibu Ani bisa berinteraksi dengan mereka walau hanya lewat lambaian tangan, senyum dan sapaan singkat.
Malam hari, usai sholat Maghrib dan beristirahat di rumah dinas Bupati Luwu di Belopa rombongan Presiden melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Wajo. Kembali Inna mengirimkan foto via BBM suasana depan rumahnya ketika rombongan Presiden melintas. Saya pun kembali menanyakan beberapa hal untuk sekedar mencocokkan dengan pengalaman saya ketika rombongan Presiden lewat depan rumah di Probolinggo tahun lalu.
Rupanya menjadi kebiasaan juga, di malam hari ketika melintas jalan yang ramai kerumunan warga, selain membuka kaca mobil lampu di dalam kabin juga dinyalakan sehingga warga dapat melihat jelas wajah Presiden SBY dan Ibu Ani yang tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka. “Iya Om, kaca mobilnya dibuka trus lampu dalam mobil dinyalakan”, jawab Inna menjawab pertanyaan saya apakah dia bisa melihat jelas wajah Presiden SBY dan Ibu Ani meskipun malam hari.
Bagi Om saya, Atika dan Inna dan warga Palopo serta Belopa, kunjungan Presiden SBY dan Ibu Ani kali ini memberikan kegembiraan tersendiri serta merupakan suatu pengalaman berharga bagi mereka. Kapan lagi bisa menyapa dan melihat langsung orang nomor satu di negeri ini.  Kunjungan ini juga merupakan bentuk perhatian dan kepedulian Presiden SBY kepada masyarakat di daerah. 
Jika beberapa bulan lalu saat pulang kampung, saya hanya bisa bercerita tentang pengalaman ketika Presiden melintas depan rumah di Probolinggo hingga saya bisa berjabat tangan dengan beliau di Istana Bogor, akhirnya saudara-saudara saya di Palopo dan Belopa bisa ikut merasakan apa yang saya alami. Jika beberapa bulan lalu mereka hanya bisa membayangkan menyambut dan melihat Presiden, kini mereka bisa merasakannya sendiri. Dan saya pribadi ikut bersyukur dan berterimakasih, akhirnya Presiden SBY berkunjung kampung halaman saya.

Selasa, 28 Januari 2014

Ketika Kompasianer “Ndeso” Hadiri Launching Buku Pak SBY



Mungkin saya memang orang yang selalu beruntung dan keberuntungan itu sepertinya kembali berlanjut di awal tahun 2014 ini. Tanggal 17 Januari kemarin, saya yang “wong ndeso” alias orang desa kembali mendapat undangan ke Jakarta untuk menghadiri acara yang sangat istimewa. Hari Jum’at itu saya diundang untuk menghadiri launching buku “Selalu Ada Pilihan” karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Assembly Hall Jakarta Convention Centre (JCC).
Ya, ini adalah keberuntungan berulang yang sangat saya syukuri. Enam bulan sebelumnya tepatnya tanggal 5 Juli 2013, saya diundang untuk menghadiri Kopi Darat Istana untuk Rakyat (Kopdar Istura) Perdana di Istana Bogor bersama Presiden SBY sekaligus menyaksikan launching akun Facebook, Google+ dan YouTube beliau. Dua bulan sebelum itu, akun Twitter saya @Dody_Kasman difollback Presiden SBY.
Seperti sudah saya jelaskan pada tulisan terdahulu, keberuntungan ini berawal dari tulisan saya di Kompasiana tentang kunjungan Presiden SBY ke Gunung Bromo awal Mei 2013. Dari situlah semua keajaiban dan keberuntungan ini berlanjut. Tentu juga berkat beberapa pihak yang memungkinkan tulisan saya di Kompasiana terbaca dan mendapat apresiasi dari pihak Istana.
 Seperti saat diundang Kopdar Istura Perdana, saya sama sekali tak punya bayangan bisa diundang untuk menghadiri launching buku istimewa itu. Sebenarnya rencana launching buku ini sudah disampaikan oleh Presiden SBY lewat akun Twitternya @SBYudhoyono yang menjelaskan bahwa peluncuran buku rencananya akan dilaksanakan awal Desember 2013. Sayapun langsung merespon tweet tersebut dan berharap bisa mendapatkan buku itu sekaligus mungkin membuat resensi buku, dari sudut pandang “wong ndeso” tentunya.
Alhamdulillah, ternyata saya tak hanya mendapatkan buku tersebut tetapi juga diundang untuk menghadiri launching yang dilaksanakan di JCC Jum’at (17/1) malam. Undangan tak terduga ini awalnya disampaikan oleh salah seorang Staf Kepresidenan seminggu sebelum hari H. Tanpa pikir panjang, saya langsung menyanggupi untuk hadir sambil menunggu informasi selanjutnya. Dua hari kemudian salah seorang panitia kembali memastikan kesediaan saya untuk hadir sambil memberikan beberapa informasi termasuk undangan yang harus saya ambil di Wisma Negara.
Setelah semuanya pasti, sayapun minta ijin pada pimpinan untuk menghadiri acara tersebut. Meskipun sebenarnya ini adalah undangan pribadi sebagai pegiat media sosial yang aktif menulis di Kompasiana, tapi sebagai etika aparatur di daerah saya harus minta ijin pada pimpinan langsung yakni Pak Camat. Alhamdulillah beliau mengijinkan apalagi acara launching dilaksanakan di luar jam kerja. Sebenarnya saya juga sudah menyampaikan ijin kepada Bupati melalui sekretaris pribadinya, namun hingga kepulangan dari Jakarta belum ada jawaban kapan saya bisa menghadap.  
Jum’at siang saya sudah tiba di Jakarta dan bermaksud langsung menuju Wisma Negara untuk mengambil undangan. Tapi kembali saya diberi kemudahan, Staf Kepresidenan melalui SMS menyampaikan bahwa undangan akan diantar ke tempat saya menginap. Dengan demikian saya tak perlu ke Wisma Negara yang tentu saja harus melewati proses pemeriksaan sebelum bisa masuk ke dalam.
Acara yang dilaksanakan malam hari itu membuat saya masih punya waktu untuk beristirahat dan menikmati suasana sore hari di Jakarta yang ketika itu mendung dan sudah banjir di beberapa tempat. Kebetulan ada teman sekolah sedaerah yang bekerja di Jakarta mengajak saya sore itu berkeliling seputar Senayan dengan sepeda motor Vespa tuanya. Sayapun tak bisa menolak ketika dia memaksa untuk mengantar saya ke JCC berVespa, padahal saya sudah berencana untuk naik taxi kesana. “Kalo naik taxi bisa lama karena macet, biar saya antar sekalian saya pulang ke rumah juga”, ucap teman saya ketika itu.
Setelah Maghrib kami meluncur ke JCC melewati lalu lintas Jakarta di sore hari yang sudah pasti padat dan macet disana-sini. Alhamdulillah, tak sampai 15 menit kami sudah sampai di akses masuk pintu 6 Senayan. Namun sayang, karena memang sudah menjadi prosedur pengamaman, tak semua kendaraan bisa masuk apalagi motor Vespa tua yang mengantar saya. Akhirnya sayapun harus sedikit berjalan kaki dari pintu 6 menuju Assembly Hall JCC. Berkat undangan yang saya bawa, segala sesuatunya menjadi mudah. Hanya dengan menunjukkan undangan, semua petugas dengan ramah menunjukkan arah menuju lokasi acara yang sama sekali tak pernah saya datangi sebelumnya.
Ada perasaan campur aduk begitu akan memasuki Assembly Hall JCC. Saya seperti “wong ndeso” yang hilang di tengah keramaian. Selama ini saya tahu JCC yang sering dipakai untuk pertemuan penting dan konser artis ibukota hingga mancanegara dari media khususnya TV. Belum lagi undangan yang kebanyakan para pejabat negara dan tokoh-tokoh penting nasional. Saya yang datang seorang diri dari daerah hanya bisa “tolah-toleh” kanan kiri berharap bisa bertemu orang yang saya kenal.
Alhamdulillah, begitu masuk ke tempat ramah tamah sebelum acara dimulai saya bertemu “Mas” dari Staf Kepresidenan yang langsung menyambut dan menyapa saya dengan ramah. Kehangatan dan keramahan sambutan itu membuat saya tak lagi merasa sepi. Setelah berbincang sejenak, Mas Staf Kepresidenan tersebut mempersilahkan saya menikmati hidangan yang tersedia. Saat itu pula akhirnya saya bertemu beberapa rekan dari Kopdar Istura Perdana yang juga mendapat undangan.
Begitu masuk Assembly Hall dan mengikuti acara yang dimulai pukul 20.00 WIB itu, tak henti-hentinya saya berucap syukur. Serasa mimpi, akhirnya saya yang “wong ndeso” bisa masuk di dalam Assembly Hall dan menyaksikan launching buku Presiden SBY bersama ratusan bahkan ribuan undangan yang didominasi orang-orang penting. Cukup lama saya tak menyadari jika di belakang saya ada Mas Leak Kustiya, Pemimpin Redaksi Jawa Pos yang sudah pasti menjadi undangan khusus pada acara tersebut.
Jika selama ini saya hanya bisa membayangkan suasana pertunjukan musik di JCC, maka malam itu mimpi saya itu menjadi kenyataan. Akhirnya saya bisa menikmati suara merdu Lala Karmela diiringi gitaris ternama Tohpati. Tak hanya itu, saya juga bisa menikmati suara khas penyanyi legendaris Ebiet G. Adhe. Dan tentu saja yang paling istimewa, saya kembali bisa mendengar dan menyaksikan secara langsung Presiden SBY menyampaikan penjelasan dan pencerahan terkait buku yang diluncurkannya malam itu. Momen berharga dan langka bagi “wong ndeso” dari daerah yang sangat jauh dari Ibukota seperti saya.
Banyak yang mengkritik Presiden SBY tak memiliki kepedulian karena meluncurkan buku saat bencana sedang terjadi di beberapa tempat di tanah air. Namun sebenarnya tak seperti itu. Presiden SBY sendiri menjelaskan sebenarnya launching akan dilakukan awal Desember, tapi karena padatnya agenda jelang akhir tahun maka rencana tersebut ditunda. Dipilih tanggal 17 Januari sebab hanya pada tanggal itulah Assembly Hall JCC bisa dipakai, karena banyak kegiatan lain yang dilaksanakan di tempat yang sama selain tanggal tersebut.
Jika diperhatikan, jelang peuncuran bukunya Presiden SBY justru menunjukkan kepeduliannya pada bencana dan musibah yang sedang terjadi. Lewat HP, saya sempat mengikuti beberapa tweet di TL beliau. Beberapa jam sebelum acara, Presiden SBY menerima laporan kondisi bencana di berbagai daerah dan memberikan arahan kepada pimpinan daerah bersangkutan serta Kepala BNPB untuk memastikan bantuan kepada masyarakat segera disalurkan.
“Saya baru sj telepon Gubernur DKI Jakarta, Sumut & Sulut utk tanyakan perkembangan situasi terkini di wilayah masing2”, demikian tweet Presiden SBY tanggal 17 Januari 2014 pukul 18.46 WIB. “Dr laporan para Gubernur tsb, scr umum bencana di wilayah masing2 sdh ditangani dg baik & bantuan jg sdh tersalurkan”, demikian bunyi tweet selanjutnya pukul 18.52 WIB. Beberapa saat kemudian berlanjut dengan tweet bahwa khusus untuk Sinabung Presiden SBY akan berkunjungi minggu depannya (23 s/d 25 Januari). Untuk Manado beliau sudah menugaskan Wakil Presiden untuk meninjau langsung. Dengan demikian tak perlu dipertanyakan lagi kepedulian Presiden SBY terhadap bencana yang sedang terjadi meskipun launching buku dilaksanakan saat itu.
Tak terasa dua jam acara istimewa itu berlangsung meriah dan sukses. Kembali saya mengucap syukur bisa menjadi saksi launching buku orang nomor satu di negeri ini. Semakin bersyukur karena semua undangan malam itu mendapat hadiah berupa goody bag berisi buku “Selalu Ada Pilihan” setebal 800 halaman lebih, buku saku berisi kutipan-kutipan dari buku tersebut dan satu buah flash disk berbentuk kartu identitas berisi foto-foto dan video teaser serta trailer launching buku.
Dan yang sangat istimewa bagi saya pribadi, ternyata buku yang saya dapat termasuk salah satu dari 100 buku yang ditandatangani sendiri oleh Presiden SBY. Sebelumnya pembawa acara di akhir acara menyampaikan bahwa ada hadiah istimewa berupa 100 buku yang ditandatangani Presiden SBY hanya untuk 100 undangan, dan saya termasuk salah satu orang yang beruntung itu. Ya, “wong ndeso” beruntung lagi.
Sesampai di penginapan, saya mencoba membuka halaman-demi halaman buku yang sangat tebal itu. Sepintas isinya menarik dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Meskipun tebal, saya yakin pembaca bisa menikmati dan memahami apa yang ingin disampaikan penulis di setiap halamannya. Tak terasa, mungkin karena lelah dan mengantuk sayapun tertidur ditemani buku bercover putih itu.
Sabtu pagi keesokan harinya sayapun langsung pulang dengan berkereta api, tentu saja harus turun di Surabaya terlebih dulu dan melanjutkan perjalanan 3 jam dengan bus antar kota ke Probolinggo. Sengaja saya memilih kereta api, disamping untuk mencari suasana lain bagi saya cuaca akhir-akhir ini bisa membuat sport jantung jika harus naik pesawat. Di kereta, kembali saya sampaikan terima kasih lewat Twitter kepada Presiden SBY atas undangan launching bukunya yang inspiratif itu. Undangan yang bagi saya sangat istimewa.
Ya, sangat istimewa bagi saya “wong ndeso” yang kebetulan aktif menulis di Kompasiana. Kemajuan teknologi informasi dengan banyaknya alternatif media dan jejaring sosial memungkinkan kita untuk menembus batas ruang dan waktu. Saya yang sehari-hari tinggal di desa dan berprofesi sebagai pelayan masyarakat di salah satu Kecamatan di daerah pegunungan Kabupaten Probolinggo bisa dua kali diundang ke acara khusus yang juga dihadiri Presiden SBY.
Semua ini bisa terjadi salah satunya berkat wadah Kompasiana yang memungkinkan saya untuk berekspresi menyampaikan aspirasi lewat tulisan. Itulah mengapa mas panitia dari Event Organizer (EO) yang mengkonfirmasi kehadiran menyebut saya Dody Kasman Blogger Kompasiana. Setidaknya ini bisa menjadi motivasi bagi saya pribadi untuk terus berkarya lewat media warga ini.
Dan untuk yang kesekian kalinya saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden SBY dan semua pihak yang telah memberikan kesempatan berharga yang tak mungkin bisa terlupakan seumur hidup ini. Rekan yang tinggal di Jakarta saja mengaku sangat bersyukur karena orang kampung (di Jakarta) sepertinya mendapat kehormatan menghadiri acara launching tersebut, apalagi saya yang memang asli orang desa. Sungguh merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan tersendiri yang wajib saya syukuri.
Diundangnya saya dan rekan-rekan yang orang biasa menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin yang tak membeda-bedakan latar belakang profesi, jabatan maupun status sosial. Bagi saya ini adalah wujud apresiasi yang tentunya akan makin memotivasi untuk terus berkreasi dan berbagi hal-hal positif demi kepentingan bangsa dan negara. Terima kasih juga untuk semua pihak yang memungkinkan saya kembali bisa merasakan nikmat Allah yang luar biasa ini.

Probolinggo, 23 Januari 2014
Follow me on Twitter : @Dody_Kasman

Kisah “Wong Ndeso” yang Diundang ke Istana



Mungkin saya termasuk orang desa alias “Wong Ndeso” yang selalu beruntung. Sebagai “wong ndeso” yang juga pemerhati dunia maya, saya termasuk orang yang beberapa kali beruntung. Pertama, akun twitter saya @Dody_Kasman di follback Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tanggal 6 Mei yang lalu, setelah sebelumnya beliau merespon artikel yang saya tulis di Kompasiana. Berikutnya sebulan kemudian, akun saya juga difollback akun resmi Istana Kepresidenan yang terkenal dengan username @IstanaRakyat.
Dan keberuntungan saya ternyata masih berlanjut. Dan keberuntungan kali ini merupakan hal yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan, bahkan mimpipun tak pernah karena sangat mustahil bagi saya yang hanya warga negara biasa yang tinggal di daerah jauh dari ibukota.
Namun kenyataan berkata lain, Jum’at 5 Juli 2013 yang lalu saya mendapat undangan untuk datang ke Istana Bogor. Saya diundang sebagai pegiat sosial media untuk menghadiri Kopi Darat Istana untuk Rakyat Perdana (Kopdar Istura Perdana). Kopdar ini diselenggarakan oleh Staf Kepresidenan yang mengelola akun twitter @IstanaRakyat.
Banyak yang meragukan keaslian undangan tersebut saat pertama kali saya mengabarkannya pada beberapa kerabat dan teman dekat. Ada yang mengingatkan agar saya berhati-hati, khawatir itu undangan “awu-awu” alias undangan tidak jelas ulah oknum tak bertanggung jawab. Tak sedikit pula yang mencibir, menganggap itu undangan palsu sebab tak mungkin orang biasa dan “ndeso” seperti saya bisa mendapat undangan istimewa semacam itu.
Rasanya seperti tak mungkin, saya yang hanya staf kecamatan di pedalaman Kabupaten Probolinggo mendapat undangan khusus dari Istana Kepresidenan. Saya yang setiap hari bergaul dengan Kepala Desa dan Perangkat Desa serta rekan-rekan pegawai kantor kecamatan, rasanya tak mungkin bisa diundang pihak Istana dan bertemu dengan orang-orang penting level nasional.
Namun semuanya saya tanggapi dengan pikiran positif. Saya tetap antusias dan bersyukur mendapatkan undangan istimewa tersebut. Makin optimis setelah beberapa kali panitia kopdar mengkonfirmasi kehadiran dan menjelaskan beberapa hal terkait acara tersebut. Bahkan sangat mendetail dan membuat saya akhirnya merasa nyaman dan aman serta yakin untuk segera berangkat.
Karena dari luar Jabotabek, saya harus sudah ada di Jakarta hari Kamis tanggal 4 Juni sebab rombongan dari Jakarta dan sekitarnya berangkat dari kompleks Sekretariat Negera (Setneg) hari Jum’at pukul 09.00 WIB. Alhamdulillah Kamis malam saya sudah ada di Jakarta, menginap di salah satu hotel persis di depan kompleks Setneg.
Jum’at pagi saya langsung menuju halaman parkir masjid yang berada di dalam lingkungan Setneg tempat rombongan berkumpul. Rasanya masih seperti mimpi ketika memasuki gerbang Setneg, baru tersadar dan yakin ini bukan mimpi saat petugas pengamanan di pintu masuk melakukan pemeriksaan sesuai prosedur.
Untuk meyakinkan orang-orang yang sempat meragukan keberangkatan saya ke Jakarta, seketika itu pula saya langsung mengambil gambar gedung Setneg dengan kamera HP dan memasangnya sebagai DP BBM. Dan benar saja, beberapa saat kemudian puluhan BBM masuk mengkonfirmasi foto yang bagi sebagian dari mereka tak mungkin itu. “Alhamdulillah” begitu status singkat BBM saya merespon pertanyaan mereka. Padahal perjalanan seru baru dimulai.
Jika awalnya saya merasa sendiri dan asing saat melangkah masuk menuju lokasi pemberangkatan, namun perasaan itu sirna dan berubah menjadi rasa bahagia dan nyaman setelah bertemu dengan panita kopdar yang notabene juga Staf Kepresidenan. Makin merasa tak sendiri saat berkenalan dan berbincang dengan peserta yang lain.
Ternyata hari itu ada dua event yang dilaksanakan bersamaan. Pertama, fotografi instagram bersama Ibu Ani Yudhoyono yang memang diumumkan sebelumnya melalui akun @IstanaRakyat. Kegiatan ini diiukuti 25 orang instagramers terpilih. Sedangkan kegiatan kedua adalah diskusi media sosial yang diikuti 20 orang pegiat dan founder beberapa komunitas media sosial.
Seluruh peserta baik dari Jakarta dan sekitarnya maupun Bogor dan sekitarnya bertemu di pintu masuk Istana Bogor. Meskipun harus melalui prosedur pemeriksaan keamanan, namun panitia yang selalu mendampingi selalu memastikan kami merasa nyaman. Di Istana Bogor kami dipersilahkan beristirahat di Paviliun I yang biasanya digunakan untuk tempat beristirahat pejabat selevel Menteri.
Lagi-lagi saya dan teman-teman kembali beruntung sebab hari itu bertepatan dengan kunjungan resmi Perdana Menteri Australia yang baru, Kevin Rudd ke Istana Bogor. Bahkan kami sempat melambaikan tangan pada Ibu Ani Yudhoyono dan Istri PM Australia Therese Rein saat berkeliling meninjau kompleks Istana Bogor.
Usai sholat Jum’at rangkaian kegiatan dimulai. Diawali dengan tour keliling istana. Kami diajak menyaksikan berbagi koleksi lukisan dan benda-benda bernilai sejarah yang ada di museum di dalam kompleks istana. Kami juga dikenalkan dengan beberapa koleksi flora dan fauna yang melengkapi keindahan Istana Kepresidenan tersebut.
Setelah tour, peserta dibagi menjadi dua kelompok. 25 orang langsung menuju lokasi hunting foto di halaman Istana Bogor bersama Ibu Ani Yudhoyono. Sementara 20 orang lainnya langsung menuju Ruang Garuda, yang istimewanya, ketika itu baru saja dipakai sebagai ruangan untuk pertemuan bilateral Presiden SBY dengan PM Kevin Rudd.
Saya bersama 19 orang peserta diskusi media sosial benar-benar beruntung sebab yang bertindak sebagai narasumber adalah mas Agus Yudhoyono, CEO Kaskus dotcom Ken Dean Lawadinata dan artis ayu Maudy Ayunda. Tema diskusi juga sangat menarik yaitu “Indonesia Bisa : Penggunaan Media Sosial sebagai Sarana Menebarkan Hal Positif Bagi Bangsa”.
Saat diskusi telah berjalan hampir satu jam, protokoler istana memberi tanda kepada staf kepresidenan yang bertindak sebagai moderator diskusi bahwa Presiden SBY berkenan untuk bergabung bersama kami. Sesaat kemudian Presiden SBY memasuki ruangan sambil menyapa kami dengan ramah. Hangat sekali sapaan beliau, tak terlalu protokoler. Saya yang awalnya tegang akhirnya bisa relaks melihat beliau yang menyapa dengan senyum ramahnya.
Begitu pula saat Presiden SBY memberikan arahan kepada seluruh peserta diskusi. Beliau mampu membawa suasana diskusi menjadi cair, tidak terlalu tegang dan apa yang disampaikan dapat kami tangkap dengan baik. Pada intinya beliau menekankan pentingnya peran media sosial di era globalisasi seperti saat ini, terutama untuk menyampaikan hal-hal yang positif demi kepentingan bangsa dan negara.
Presiden juga berbagi pengalaman sebagai pengguna media sosial, khususnya twitter dan ketertarikannya untuk merambah komunitas dunia maya yang lain seperti Youtube dan Google+. Menurut beliau, dengan memanfaatkan media sosial, ide dan pemikirannya dapat langsung disampaikan dengan cepat. Ini juga sebagai penyeimbang pemberitaan media yang cenderung memojokkan pemerintah, padahal masih banyak kebijakan-kebijakan yang belum tersampaikan dengan baik ke khalayak.
Satu hal yang kembali membuat saya terkesan, saat akan meninggalkan ruangan Presiden SBY masih menyempatkan diri untuk menghampiri dan menyalami kami satu persatu. “Terima kasih untuk kedatangannya,” begitu ucap beliau saat kami berjabat tangan. Padahal semestinya saya yang mengucapkan terima kasih atas kesempatan langka dan luar biasa itu.
Pertemuan kami dengan Presiden SBY ternyata masih berlanjut hingga malam hari. Seluruh peserta kopdar diundang untuk menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono. Hadir juga bergabung dengan kami malam itu, artis peran Titi Rajo Bintang dan personel boyband Sm*sh Bisma Karisma. Bagi saya, lagi-lagi ini pengalaman luar biasa bagi “wong ndeso” yang biasa makan di warung kecil pinggir jalan, akhirnya bisa menikmati hidangan istimewa di Istana Kepresidenan satu ruangan dengan Presiden RI dan Ibu Negara.
Ternyata masih ada satu acara lagi yang harus kami ikuti setelah makan malam. Malam itu kami menjadi saksi launching fanpage Facebook, Yotube dan Google+ Presiden SBY. Sebelumnya kami juga menyaksikan proses video conference via Google Hangout oleh Presiden SBY dengan Satgas penanganan bencana gempa bumi Aceh dan penanggulangan asap di Kalimantan dan Riau.
Sekitar pukul 21.00 seluruh rangkaian acara usai. Semua undangan yang hadir malam itu berfoto bersama Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono di depan Istana Bogor. Kembali Presiden SBY menyampaikan terima kasih atas kedatangan kami sembari mengucapkan selamat malam dan selamat beristirahat. Kesan yang bisa saya tangkap, beliau adalah sosok pemimpin yang santun dan mengayomi.
Malam itu juga semua peserta kopdar berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara saya yang jauh dari daerah harus menginap semalam lagi di Jakarta dan pulang keesokan paginya. Sambil beristirahat, saya upload foto-foto yang merekam peristiwa selama berada di Istana Bogor. Tak sedikit yang langsung merespon memberikan ucapan selamat, termasuk mereka yang awalnya tak percaya dan menganggap keberangkatan saya ke Jakarata hanya gurauan belaka.
Entah apa yang menjadi sebab dan alasan saya diundang ke istana. Namun yang jelas semua berawal ketika saya menulis tentang kunjungan Presiden SBY ke Probolinggo yang saya posting di kompasiana. Di dalam artikel itu saya tulis tentang celetukan putri saya, Nia, “Pak SBY nyuwun duwite, buat beli es krim”. Mungkin kalimat ajaib itu yang menjadi ihwal semua keajaiban ini.
Sama sekali tak menyangka juga dengan apresiasi luar biasa dari Istana Kepresidenan lewat akun @IstanaRakyat yang mengundang saya secara pribadi. Padahal saya baru menulis beberapa artikel saja tentang Presiden SBY, jika dibandingkan dengan tulisan saya tentang Fatin Shidqia Lubis yang jumlahnya sudah puluhan.
Apakah ini juga karena kicuan saya di twitter yang sering menyapa sambil memberi kritik dan saran kepada Presiden SBY lewat akun @SBYudhoyono dan akun @IstanaRakyat? Tapi apapun dan siapapun yang memungkinkan semua ini terjadi, tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Allah SWT atas semua peristiwa luar biasa ini, terima kasih juga kepada semua pihak yang ikut andil memungkinkan terjadinya keajaiban ini.
Dari pengalaman langka seperti ini saya juga banyak belajar mengenai bagaimana memperlakukan orang lain, siapapun itu dan dari kalangan manapun. Dari para staf kepresidenan banyak pelajaran berharga yang bisa saya petik. Keramahan mereka, kesigapan mereka dan kebaikan mereka membuat saya merasa nyaman dan tidak merasa “asing” ketika berkunjung ke tempat penting seperti Istana Bogor.
Selain itu, berkat undangan ini saya bisa bertemu dengan banyak sekali tokoh-tokoh media sosial yang menginspirasi. Seperti misalnya mas Saptuari Sugiharto dari Jogjakarta, penggagas sedekah rombongan, yang mampu memanfaatkan sosial media untuk menolong orang yang membutuhkan. Yah, meski saat ini saya belum mampu seperti itu, namun ke depannya, siapa tahu?
Yang pasti, berkat pengalaman ini saya bisa belajar bahwa aktif di sosial media seperti Facebook, Twitter maupun Kompasiana bukanlah hal yang sia-sia dan percuma. Saya bisa berkenalan dengan banyak orang-orang dan menambah pengetahuan tentang pentingnya media sosial untuk menebarkan hal-hal positif untuk kepentingan bersama.
Yang terpenting lagi, pengalaman berharga tersebut menjadi motivasi dan makin meyakinkan saya bahwa media sosial seperti Twitter dan Facebook ke depannya akan menjadi pilihan untuk menyebarkan hal-hal baik yang mampu membangun bangsa. Yang luar biasa lagi dan hingga kini masih serasa mimpi, media sosial juga yang akhirnya mampu mempertemukan saya secara langsung dengan orang nomor satu negeri ini.
Semoga kisah yang masih serasa mimpi bagi saya ini, bisa menjadi inspirasi dan memotivasi rekan-rekan yang lain untuk terus berkarya. Tak ada yang tak mungkin jika mau berusaha. Lakukan segala sesuatunya dengan niat ibadah dan pikiran positif, sehingga positif dan manfaat pula hasil yang kita peroleh.
  
16 Juli 2013
Follow me on Twitter : @Dody_Kasman