Kamis, 13 Maret 2014

Ketika Fatin dan Saya Bertemu Presiden SBY



Fatin dan Saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)? Benarkah? Kapan? Dimana? Mungkin pertanyaan itu yang muncul ketika membaca judul artikel ini. Ya, kami berdua memang sudah bertemu dengan beliau. Meskipun sebenarnya saya justru belum pernah bertemu langsung dengan Fatin. Lah, kok bisa? Jelas saja, sebab kami ketemu Presiden SBY di waktu dan tempat yang berbeda.
Fatin bertemu Presiden SBY tanggal 27 Pebruari yang lalu di acara Silaturrahim Nasional Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi. Saat itu Fatin juga tampil menyanyi di depan Presiden SBY dan Ibu Ani. Sementara saya bertemu Presiden SBY di acara diskusi media sosial pada Kopdar Istura Perdana tanggal 5 Juli 2013 silam di Istana Bogor. Saat itu saya sempat berjabat tangan dengan beliau.
Mungkin apa yang Fatin rasakan sama dengan apa yang saya rasakan ketika itu. Setidaknya itu yang bisa saya tangkap dari kicauan Fatin di akun twitternya beberapa saat usai ia tampil dan bertemu Presiden SBY. “Nyanyi di depan Pak SBY itu...super duper deg-deg'an. Huaaah”, begitu tweet di akun pribadinya @fatinSL.
Tweet tersebut setidaknya menggambarkan betapa nervousnya Fatin sebab ini kali pertama ia tampil di depan Presiden, meskipun sebenarnya jam terbang manggungnya sudah lumayan tinggi. Walau mengaku sangat deg-dengan namun Fatin akhirnya mampu tampil bagus. Meski mengaku “super duper” deg-degan, perasaan bahagia dan bangga juga nampak di wajah Fatin ketika ia bersalaman dengan Presiden SBY.
Apa yang dirasakan Fatin juga pernah saya rasakan saat pertama kali bertemu dan bersalaman dengan beliau tahun lalu. Logikanya, Fatin yang sudah demikian populer dengan jutaan penggemar fanatiknya (termasuk saya) bisa deg-degan seperti itu, apalagi saya yang bukan artis dan bukan siapa-siapa. Dan sekali lagi, ini adalah hal yang wajar dan sangat manusiawi, sebab tak semua orang bisa mengalaminya. Kesempatan yang sangat langka sekaligus merupakan suatu kebanggan tersendiri bisa bertemu dan berjabat tangan dengan orang nomor satu di negeri ini.
Dan adalah hal yang wajar juga jika rakyat di daerah yang dikunjunginya menyambut dengan suka cita hingga rela menanti lama di jalan yang akan dilalui rombongan Presiden, hanya untuk sekedar bisa melihat secara langsung wajah pemimpinnya. Demikian juga yang saya alami ketika beliau berkunjung ke Probolinggo tahun lalu. Hanya berdasar kabar di koran lokal dan berita dari mulut kemulut, tanpa dikomando dan tanpa paksaan kami sekeluarga dan begitu juga ratusan warga masyarakat rela menunggu lama di pinggir jalan yang akan dilalui rombongan Presiden.
Saya yakin begitu juga yang terjadi di daerah lain, seperti halnya kebahagiaan yang diungkapkan adik sepupu dan keponakan saya ketika Presiden SBY berkunjung ke kampung halaman saya di Palopo (Sulsel). Perasaan bahagia, bangga dan beryukur karena seorang pemimpin di level teratas mau berkunjung dan menyapa rakyat di daerah. Bahagia dan bersyukur karena tak setiap hari Presiden datang ke daerah.
Di kota metropolitan seperti Surabaya, masyarakat juga menyambut dengan antusias kehadiran Presiden SBY sebagaimana terjadi Selasa (11/3) malam kemarin. Saat itu Presiden SBY dan Ibu Ani hadir di Galaxy Mall Surabaya untuk makan malam. Antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk bertatap muka langsung dengan Presiden SBY, bahkan hingga pukul 21.00 WIB.
Tak ada yang mengarahkan masyarakat untuk bergerombol menyemut hanya untuk sekedar bisa melihat dan menyapa Presiden SBY. Tak ada yang memerintah mereka untuk berebut bersalaman dengan beliau. Semua itu mereka lakukan dengan spontan dan suka cita sebagaimana senyum yang nampak di wajah mereka.
Demikian halnya ketika saya menulis pengalaman-pengalaman pribadi tentang kunjungan Presiden hingga pengalaman tak terlupakan saat saya bisa bertemu langsung dan bersalaman dengan beliau. Tak ada yang meminta, menyuruh apalagi memaksa saya untuk menulis itu semua. Saya menulis karena saya memang ingin menulisnya.
Saya ingin mengabadikan dalam tulisan sekaligus berbagi pengalaman dengan siapapun yang mau membaca tulisan saya dan masih mau berpikir positif tentang apa yang saya tulis. Apa yang saya sampaikan dalam tulisan-tulisan tersebut merupakan apresiasi atas hal-hal positif yang saya terima dan rasakan. Meskipun untuk tulisan terakhir (“Ketika Presiden SBY Lewat Kampung Kami”) dalam salah satu komentar saya justru di cap sebagai penjilat. Bahkan komentator tersebut mengaku menyesal telah membaca tulisan-tulisan saya terdahulu.
Anehnya, mengapa di saat saya menceritakan kembali pengalaman orang lain (dalam hal ini ungkapan kebahagiaan keponakan dan saudara sepupu) justru saya disebut sebagai penjilat? Begitu mudahnya menyebut saya sedemikian rupa seolah-olah mampu membaca pikiran dan kata hati saya. Tapi biarlah... saya menulis karena saya memang ingin menulis, dan apa yang saya tulis merupakan ungkapan pikiran dan perasaan saya, itu saja.
Apresiasi lewat artikel yang pernah saya tulis sebenarnya tak hanya tentang Presiden SBY. Justru saat awal-awal terjun sebagai Kompasianer, saya begitu rajinnya menulis tentang Fatin, mulai saat ia sedang menjalani proses audisi dan gala show hingga terpilih menjadi jawara X Factor Indonesia (XFI) 2013. Tak ada yang meminta, menyuruh bahkan memaksa saya untuk menulis tentang Fatin.
Terus terang, tantangan yang saya rasakan ketika itu juga cukup berat. Banyak yang mencibir dan mencemooh saya yang sudah bukan remaja, mengapa justru begitu “lebay”nya mensupport Fatin sampai saya aktif kembali menulis, setelah sempat vakum cukup lama dari dunia tulis menulis. Seperti halnya rekan-rekan Kompasianer Fatinistic yang lain, saya melakukannya dengan sukarela, suka cita dan tulus ikhlas hanya untuk mensupport Fatin, meskipun tak ada jaminan tulisan saya tersebut akan dibaca sendiri oleh Fatin.
Dengan semua yang saya alami dan rasakan itu, saya terus dan akan terus menulis apa yang ada dalam pikiran serta apa yang saya rasakan. Topik tentang Fatin dan Presiden SBY yang mendominasi semata-mata merupakan bentuk apresiasi atas apa yang telah mereka lakukan sehingga mampu menginspirasi saya untuk kemudian saya ungkapkan dalam bentuk tulisan.
Sekali lagi, tak ada yang meminta, menyuruh bahkan memaksa saya untuk menulis. Saya menulis karena saya memang ingin menulis. “I don’t write it if don’t mean it!”. Yang jelas, saya selalu berusaha untuk berpikir positif dan menyebarkan semangat positif lewat tulisan.
Dan harus disadari pula, berbeda pendapat di era yang sangat bebas seperti saat ini adalah hal yang wajar dan pasti terjadi. Mari kita jadikan perbedaan pendapat itu untuk saling mengkoreksi dan memperbaiki diri sehingga kita bisa saling melengkapi. Jangan jadikan perbedaan pendapat untuk saling menyalahkan dan menjatuhkan. 
Di bagian akhir tulisan ini saya mohon maaf kepada siapa saja yang bersedia membaca tulisan ini namun kemudian kecewa dengan judul yang mungkin “ndak nyambung” dengan isi artikel sehingga pembahasannya melebar kemana-mana. Sekali lagi ini adalah salah satu ungkapan pikiran dan perasaan yang saya wujudkan dalam bentuk tulisan, karena saya memang ingin menulisnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar